Ia melihat senja dengan tatapan kosong, gadis itu seakan berbicara pada senja, ia berada di ambang kesedihan yang amat dalam, kesedihannya terpancar jelas dari raut mukanya. Hatinya seakan berkomunikasi pada senja, tatapan matanya seakan meminta harapan. Dan setiap senja itu berakhir ia menangis, menangis sampai ia benar-benar tak bisa melanjutkan tangisnya. Aku hanya memandang gadis itu dari kejauhan, sudah tiga hari aku mengamatinya, ia selalu berada di tempat ini saat senja tiba.
Aku ingin sekali menghampiri gadis
itu, tapi aku selalu ragu, aku tak ingin mengusik kesendiriannya. Apa ia butuh
teman? Apa ia butuh seseorang untuk menghiburnya? Aku masih terus
bertanya-tanya, mengapa aku begitu tertarik pada gadis itu? Aku kan tidak mengenalnya,
bahkan namanya saja aku tidak tahu. Hatiku terus menuntutku untuk menemuinya.
Dan aku mencoba memberanikan diri sekarang. “hay” kataku menyapanya. Ia
terlihat terkejut dan mencoba menghapus airmatanya. “ada apa?” ia menjawab.
“bolehkah aku duduk disini?” aku bertanya dengan gugup. “ya tentu!” Gadis itu
terdiam. “apa yang kau lakukan disini? Mengamati senja sampai senja itu
berakhir?” aku kembali bertanya. Tapi, mengapa ia menatapku dengan tatapan
marah, ia berdiri dan pergi. “hey mengapa kau pergi? Nona?” aku berteriak
memanggilnya, tapi ia mengabaikannya, aku melihat gadis itu berlari, berlari
sambil menangis. oh astaga apa yang kuperbuat? Apa aku menyakitinya dengan
ucapanku tadi? Harusnya kan aku menghiburnya, bukan malah membuatnya menangis,
ah bodohnya diriku.
Keesok harinya aku kembali
melihatnya disini saat senja tiba, tanpa ragu aku mendekatinya “hey, maaf ya
untuk perkataan ku kemarin” kataku berterus terang dan ia menatapku. “ya, tidak
masalah..” “mengapa kemarin kau berlari dan menangis? apa perkataanku
menyakitimu?” ia terdiam. “maaf, aku banyak bertanya.” Aku tersenyum lalu
bangkit dari duduk ku. “kenapa kamu ingin tahu?” katanya menatapku. “aku hanya
heran mengapa kau selalu menangis ketika senja berakhir?” “duduk lah jika kau
ingin tau.” Katanya tersenyum. “ok aku duduk, lalu mengapa kau bersedih? Apa
senja menyakitimu?” aku sedikit tertawa.. ia menatap ku lagi. “senja tidak
membuatku bersedih, senja adalah sahabatku.” Ia menjawab dengan tenang.
“sahabat? Bagaimana caranya kau berkomunikasi dengannya?” kataku penasaran.
“jika kau mengerti senja, ia akan memberitahumu bagaimana caranya.” Ia bangkit
lalu pergi sambil tersenyum padaku.. “hey tunggu, siapa namamu?” aku setengah
berteriak, lalu ia menoleh dan berkata “rinjani”. Rinjani? Nama yang indah.
Tapi apa mungkin aku bisa berkomunikasi dengan senja? Gumamku dalam hati.
Hari ini hujan turun, entah mengapa
sore ini langit menangis setelah seharian ia marah dan membiarkan matahari
memanggang kulit manusia yang beraktivitas dibawahnya. Selintas pikiranku
menuju pada rinjani apakah ia berada di tempat kemarin? Tapi mustahil senja
akan terlihat, awan mendung pasti akan menutupinya, tapi aku penasaran. “lebih
baik aku kesana.” Gumamku. Setelah berada disana aku tak melihat sosok rinjani,
hujan pasti telah membuatnya tak ingin berkunjung, kekecewaan menghampiri
diriku. Aku duduk tertunduk di kursi ini sendirian dalam rintik hujan yang
berusaha membasahi seluruh tubuhku. “hey” seseorang memanggilku, aku menoleh
dan melihat sosok seorang gadis dengan payung yang tak asing bagiku. “rinjani?”
aku tersenyum bahagia. “sedang apa kau disini? Berharap pelangi muncul setelah
hujan reda?” ia tertawa kecil. “tidak, aku mengharapkan kehadiranmu.” Aku
tersenyum. “aku sudah disini, lalu kau mau apa?” tanyanya dengan nada bercanda.
“hmmm, mengajakmu melihat pelangi, walau hujan tak berhenti sampai malam hari.
Bagaimana?” aku tertawa. “aku lebih ingin melihat senja ketimbang melihat
pelangi” ia terdiam. “senja telah tiba, dia melihat kita tapi kita tidak melihatnya,
jangan bersedih rinjani” aku tersenyum dan ia tertawa “ya aku tahu, siapa
namamu?” Ia menatapku. “aku rama, salam kenal.” Aku menjulurkan tanganku.
Hari begitu cepat berganti, tak
terasa kini aku dan rinjani semakin akrab, kami dipertemukan oleh senja, dan
aku merasa senja ingin aku selalu bersama rinjani dan ia ingin aku menghapus
semua kesedihan yang rinjani simpan. Terlalu banyak luka, terlalu banyak
kesedihan yang rinjani rasakan. Rinjani bercerita banyak tentang hidupnya, dan
aku menangis ketika ia menceritakannya semua itu, ia hidup sendiri, orangtuanya
telah meninggal 5 tahun yang lalu, ia kesepian, dan ia berusaha tetap merasa
bahagia walau orang-orang disekelilingnya menghancurkan hidupnya. Betapa
malangnya hidup gadis ini. Satu-persatu orang yang ia sayang melukai hatinya,
mulai dari sahabat, teman bahkan kekasihnya terdahulu. Aku kagum padanya, ia
masih bisa bertahan saat semua orang yang ia sayang menyakitinya, ia tabah
walau orang lain berusaha menghalanginya menggapai kebahagiaan. Rinjani itu
wanita istimewa, banyak hal yang ku kagumi dalam dirinya, ia kuat, tabah, dan
sederhana. Dan aku bertekad untuk membuatnya bahagia selama tuhan masih
memberiku nyawa untuk hidup.
Sore ini aku pergi ketempat biasa
aku bertemu rinjani, dan aku melihat rinjani sedang bernyanyi dengan gitarnya.
Aku menghampirinya..
“When you love someone just be brave
to say
That you want him to be with you
When you hold your love don’t ever let it go
Or you will lose your chance
To make your dreams come true..”
That you want him to be with you
When you hold your love don’t ever let it go
Or you will lose your chance
To make your dreams come true..”
“suara yang indah.” Aku tersenyum.
Ia berhenti memainkan gitarnya dan ia tersipu malu. “kau selalu datang
tiba-tiba, seperti angin.” Ia memandangku. “mengapa berhenti? Suaramu indah,
ayo teruskan!” “tidak, tidak suaraku buruk.” Ia tersenyum. “kau selalu
merendah, aku kan memujimu, bukan merendahkan suaramu.” Aku tertawa. “aku tak
ingin jika awalnya kau memuji, dan pada akhirnya kau malah merendahkanku.” Ia
tersenyum. “ayolah, aku tak seburuk itu, lihat senja, ia masih menginginkan kau
bernyanyi.” “senja atau kamu yang menginginkan aku bernyanyi? Haha alasanmu
saja.” Aku tersenyum kecil dan bernyanyi.
“I used to hide and watch you from a
distance
and i knew you realized
i was looking for a time to get closer at least to say… hello”
and i knew you realized
i was looking for a time to get closer at least to say… hello”
“ayo teruskan, aku yang memetik
gitar, kau yang bernyanyi, jangan sungkan anggap saja aku patung yang memainkan
gitarmu.” Aku tersenyum. “mana ada patung yang secerewet kamu.” Ia tertawa..
—
“Rinjani..” panggilku padanya,
rinjani menoleh dan tersenyum.. “ini masih pukul 3 sore dan matahari masih
membakar tubuh-tubuh manusia di bawahnya, sedang apa kau disini? Menunggu senja
tiba?” aku tersenyum tapi ia tak menjawab. “ada apa rinjani? Kau beda sekali
hari ini.” Aku terdiam, ada sesuatu yang berbeda pada rinjani, ia terlihat
pucat tak secerah kemarin, apa ia sakit? “rinjani, kamu kenapa? Kamu sakit?”
aku masih bertanya-tanya. “tidak, aku baik-baik saja rama. Jangan khawatir.” Ia
tersenyum.. “oh syukur lah kalau begitu, apa yang kau lakukan disini? Matahari
masih terasa panas jam segini” ia menoleh dan tersenyum “aku ingin menunggu
senja dan melihatnya berakhir, mungkin ini adalah terakhir kalinya aku kesini,
hehe..” ia tertawa.. “kamu ini, jangan bercanda, tetaplah berkunjung ke tempat
ini, apa jadinya tempat ini tanpamu, tegakah kau melihatku kesepian.” Aku
menatapnya. “jangan pernah merasa sendirian ram, ada senja yang akan selalu
mengerti dirimu..” ia tersenyum.. aku terdiam. “rinjani, jangan pergi. Aku
mohon.” Aku menggenggam tangannya. “ayolah, jangan murung. Aku hanya bercanda
rama..” ia tersenyum “rinjani, jangan pernah katakan kau akan pergi, jangan
pernah. Aku tak akan pernah sanggup mendengar kata-kata itu.” Aku memohon.
“umur siapa yang tahu.” Katanya sambil tertawa.. “kita akan mati berdua disini
saat kita sudah menjadi kakek dan nenek nanti.” Aku tersenyum dan ia menoleh.
“seberapa besar sih arti hidupku untuk mu ram?”
—
Rinjani menghilang, sudah seminggu
ia tak ke tempat ini, aku sudah mencoba menghubunginya tapi tak ada jawaban.
Apa yang terjadi? Kemana rinjani? bagaimana kalau ia tak akan kembali? aku
takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Ya tuhan.. apa yang terjadi?
Duduk sendirian memandang senja
tanpa bersama rinjani itu rasanya berbeda. Hanya ada kesunyian tanpa canda
tawa. Semuanya hilang mengikuti kepergian rinjani, bahkan senja tak menyapaku
lagi, ia begitu cepat menghilang tak seperti hari-hari kemarin saat rinjani
masih disini. Apa yang harus ku lakukan? Mana mungkin aku hanya diam. senja kau
kan bersahabat dengan rinjani. Bisakah kau memberiku petunjuk? Aku benar-benar
kehilangan arah sekarang…
Aku mencoba mendatangi kost-an yang
ditinggalin rinjani, tapi ia tak ada disana, apa ia telah pindah? Kalau benar,
mengapa? Saat aku termenung di depan pintu kost-an rinjani seseorang
menghampiriku.. “hey nak sedang apa kau disini?” tanyanya. “saya mencari
rinjani bu.” “rinjani? Ia…” ibu itu menghentikan kalimatnya. “rinjani kenapa
bu?” ibu itu terdiam. “tolong jawab bu, rinjani itu penting untuk saya..” “nak!
Jangan bersedih.. rinjani telah tiada..” ibu itu termenung. “apa? Tidak.. tidak
mungkin. Jangan memberiku cerita bohong bu, tidak mungkin. Ia pindah kan? Ia
sudah tidak tinggal disini?” “nak tenanglah, rinjani telah meninggal 3 hari
yang lalu.” Aku terdiam tak menyangka. “apa penyebabnya? Tanyaku. “sakit,
kanker otak. Ia telah mengidap penyakit itu selama 2 tahun. Dokter telah
memvonis kematiannya 1 tahun yang lalu, tapi ia mampu bertahan selama ini
dengan semua beban yang menimpanya, ia anak yang kuat nak, biarkan ia tenang
disana tanpa ada beban yang harus ia pikul lagi..” ibu itu tersenyum.. “tapi
bu, rinjani itu penting buat hidup saya.” Aku menangis.. “sudah nak, siapa
namamu?” “rama bu..” “rama, hhmm, rinjani menitipkan ini padamu.” Ibu itu
memberikan ku sepucuk surat. “surat? Untukku?” aku terdiam.. “iya surat untukmu
dari rinjani, ibu tinggal kamu sendirian ya?” ibu itu tersenyum lalu pergi. Aku
terdiam dan mulai membaca isi suratnya.
“Dear Rama…
I wanted a perfect ending. Now i’ve
learned the hard way, that some poems don’t rhyme, and some stories don’t have
a clear beginning, middle, and end. Life is about not knowing, having to
change, taking the moment, and make the best of it, without knowing what’s
going to next happen
Goodbyes are not forever, goodbyes
are not the end. They simply mean i’ll miss you. Until we meet again.
Promise me, you’ll never forget me,
because if i thought you would i’d never leave. Don’t cry because it’s over.
Smile because it happened. Good bye rama, and please open your eyes, life is so
long. I don’t really gone. I’m still here. In your heart.
Love Rinjani
Aku meneteskan air mata..
Rinjani apa jadinya mengamati senja tanpa dirimu. Ini seakan-akan kembali ke beberapa bulan yang lalu sebelum aku mengenalmu, aku akan merindukan sosok istimewamu, sosok wanita tegar, kuat, dan ceria. Aku tahu mungkin sekarang kau telah bahagia, telah benar-benar bahagia tanpa beban yang harus kau pikul lagi. Perkenalan denganmu mungkin akan tetap jadi memori indah dalam hidupku, selamat jalan rinjani, terimakasih atas pelajaran berharga yang kau berikan padaku.
Rinjani apa jadinya mengamati senja tanpa dirimu. Ini seakan-akan kembali ke beberapa bulan yang lalu sebelum aku mengenalmu, aku akan merindukan sosok istimewamu, sosok wanita tegar, kuat, dan ceria. Aku tahu mungkin sekarang kau telah bahagia, telah benar-benar bahagia tanpa beban yang harus kau pikul lagi. Perkenalan denganmu mungkin akan tetap jadi memori indah dalam hidupku, selamat jalan rinjani, terimakasih atas pelajaran berharga yang kau berikan padaku.
- TAMAT -
Cerpen
Karangan: Octa Rina









0 comments:
Post a Comment